Posts

Perceraian tidak selalu buruk

Selama ini kita menganggap perceraian sebagai sesuatu yang buruk, bahkan tabu. Perceraian   kerap diposisikan sebagai kegagalan, aib, atau tanda ketidakmampuan seseorang mempertahankan komitmen. Pandangan ini begitu kuat hingga banyak orang merasa bahwa bertahan dalam pernikahan—apa pun kondisinya—adalah pilihan yang lebih “benar” dibanding berpisah. Namun, menurutku, cara pandang semacam ini tidak selalu adil, bisa jadi keliru dan bisa merugikan kedua belah pihak. Masalahnya bukan pada nilai mempertahankan pernikahan itu sendiri, melainkan pada anggapan bahwa bertahan selalu lebih baik daripada berpisah , tanpa mempertimbangkan kualitas hubungan yang dijalani. Dalam banyak kasus, pandangan ini justru membuat orang-orang tetap tinggal dalam relasi yang sudah tidak sehat, penuh konflik, atau bahkan menyakitkan secara emosional dan psikologis. Mereka bertahan bukan karena masih ada kehangatan, melainkan karena takut pada stigma sosial, takut dianggap gagal, atau takut melanggar n...

Rumah sebagai cermin kualitas hidup

akhir-akhir ini aku sering kepikiran kalo banyak perilaku orang di luar rumah sebenarnya adalah bayangan dari apa yang terjadi di dalam rumah mereka. Semakin lama aku memperhatikan, semakin terasa jelas bahwa orang yg tidak bahagia di rumah akan membawa sebagian dari ketidakbahagiaan itu ke mana pun mereka pergi, ke tempat kerja, ke lingkungan sosial, bahkan ke cara mereka menatap dunia. Kita sering berharap seseorang bersikap professional dengan meninggalkan masalah pribadi di rumah. Tapi manusia bukan mesin. Kita gk punya tombol untuk mematikan perasaan lalu tiba-tiba menjadi netral dan fokus. Kalau seseorang setiap hari hidup dalam suasana rumah yang penuh tekanan, konflik, dingin secara emosional, atau sekadar tidak ada ruang untuk bernapas, wajar kalau sisa energinya terkuras. Dan sisa energi itu yang kemudian muncul dalam bentuk mudah tersinggung, sulit fokus, atau terasa jauh secara emosional saat bersosialisasi. Dari sini aku mulai mikir kalo ingin melihat kualitas hidup se...

mengapa orang mudah tersinggung?

Ada satu hal yang selalu membuat saya berhenti dan mengamati manusia: betapa mudahnya seseorang tersinggung hanya karena kata, isyarat, atau perbedaan kecil dalam cara memandang sesuatu. Seakan akan kehidupan ini penuh dengan ranjau emosional yang selalu menunggu diinjak pada waktu yang salah. Ketersinggungan membatasi kita untuk saling mengenal dengan   cara yg berbeda. Dari situ saya mulai bertanya: mengapa manusia begitu rapuh terhadap pendapat orang lain? Lama-lama saya menyadari bahwa rasa tersinggung bukanlah reaksi spontan yang sederhana. Ia adalah lapisan tipis yang menutupi luka-luka kecil, keyakinan yg rapuh, dan identitas yg terlalu erat digenggam. Banyak orang merasa perlu membela dirinya, atau lebih tepatnya membela gambaran tentang dirinya yang mereka bangun. Ketika ada orang lain yg tidak sependapat, mereka merasa dunia sedang mengguncang struktur yang mereka pertahankan dengan susah payah. Barangkali di sana, di dalam diri manusia, ada ketakutan lama: ketakuta...

Mengapa Kita Butuh Hari Tanpa Aktivitas, Tanpa Harus Jadi Produktif

Di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, kita diajarkan bahwa nilai diri ditentukan dari seberapa banyak yang kita hasilkan. Setiap jam harus berguna, setiap hari harus produktif, dan setiap langkah harus mengarah pada pencapaian baru. Tanpa sadar, kita tumbuh dalam budaya yang memuja kesibukan dan meremehkan keheningan. Namun semakin dewasa, kita mulai merasakan sesuatu yang janggal: tubuh lelah, pikiran penuh, emosi menumpuk, dan hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Di sinilah kita mulai menyadari satu hal penting: kita butuh hari-hari tanpa aktivitas, tanpa target, tanpa produktivitas. Jadi mengapa kita butuh hari tanpa aktivitas, tanpa harus jadi produktif , itu karena kita manusia, bukan mesin. Sesederhana itu, tapi juga sedalam itu. Kita punya tubuh biologis yg punya energi terbatas, begitupun otak kita. kadang otak kita gk bisa dipaksa untuk bisa terus berfikir. otak kadang seperti benang yg kusut dan butuh waktu untuk merapikan diri. saat kita ...

kehadirannya di momen yg tepat, apakah berarti dia orang yg tepat?

Dalam hidup, mungkin pernah ada momen ketika seseorang datang di hidup kita tepat disaat kita butuh diselamatkan. Dan karna datangnya pas kita langsung percaya mungkin dia yg paling tepat, padahal bisa jadi dia hanya kebetulan muncul di titik yang paling rapuh bukan karna dia cocok tapi karna kita sedang kosong. Dan kalau kita tidak berhati hati rasa syukur karna “ditemukan” bisa jadi ilusi keterikatan yg sulit dilepaskan. Coba kita pikir, kenapa kita lebih cepat merasa yakin ketika kita sedang hancur? Kenapa justru di saat paling lemah kita percaya insting kita yg paling benar? Mungkin karna kita ingin sekali percaya bahwa semesta pasti punya alasan. Tapi keinginan untuk percaya itu sering menutup kemampuan kita untuk mengamati secara sadar. Dalam behavioral psychology ini disebut confirmation bias, saat kita secara tidak sadar   mencari bukti untuk membenarkan keyakinan yg sudah kita inginkan sejak awal, dan ketika emosi sedang tinggi, otak kita juga rentan mengalami False p...

Detox sosial media

Di era modern ini kita semua hampir gk bisa lepas dari smartphone, adapun penggunaan smartphone pada tiap orang berbeda beda. Ada yg untuk bisnis, berkomunikasi, kerjaan dan bersosial media, dll. Satu hal yg ku soroti dari   penggunaan smartphone adalah banyaknya waktu, energi dan perhatian yg kita berikan hanya untuk bersosial media. Terlepas dari banyaknya manfaat yg bisa kita dapatkan dari bersosial media, namun gk sedikit juga dampak buruk   yg kita rasakan, seperti sering cemas, sulit fokus, fomo, lelah secara mental dan emosi dan seolah merasa gk punya waktu dalam satu hari. Beberapa hal itu juga aku alami dalam bersosial media, takut ketinggalan tren, takut ketinggalan yg viral, ingin selalu tau kabar terbaru dari teman atau dari influencer yg kita ikuti. Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan diatas adalah dengan puasa social media. Puasa medsos ialah istirahat total dari media social selama jangka waktu yg kita tentukan, inilah yg ku lakukan dan sudah mema...

antara nilai dan sifat

Ada sebuah tulisan menarik yg ditulis oleh kang hasan yg menyinggung antara nilai dan kepribadian. Setelah membaca tulisan tersebut saya langsung crosscek diri, bagaimana harus menanggapi tulisan tersebut. Saya ingin mengcopy tulisannya terlebih dahulu kesini _   _ _ _ _ _ _ _ _ _ Alasan memilih pasangan nilai atau kepribadian? Menurut ilmu psikologi, 2 orang yg memiliki kesamaan nilai akan lebih mudah cocok, dan jadi langgeng dalam hubungan ketimbang yang punya kemiripan sifat. Apa beda antara nilai dan sifat? Nilai mengacu pada prinsip atau keyakinan yang memandu prilaku dan pengambilan keputusan seseorang. Prinsip ini dapat mencakup konsep seperti kejujuran, integritas, empati dan keadilan. Nilai umumnya dianggap relative stabil dari waktu ke waktu dan sering kali sangat tertanam dalam karakter individu. Sementara itu, kepribadian mengacu pada pola pikir, perasaan dan prilaku yg membuat seseorang unik. Kepribadian dapat mencakup berbagai jenis sifat, termasuk ekstr...