kehadirannya di momen yg tepat, apakah berarti dia orang yg tepat?
Dalam hidup, mungkin pernah ada momen ketika seseorang datang di hidup kita tepat disaat kita butuh diselamatkan. Dan karna datangnya pas kita langsung percaya mungkin dia yg paling tepat, padahal bisa jadi dia hanya kebetulan muncul di titik yang paling rapuh bukan karna dia cocok tapi karna kita sedang kosong. Dan kalau kita tidak berhati hati rasa syukur karna “ditemukan” bisa jadi ilusi keterikatan yg sulit dilepaskan.
Coba kita pikir, kenapa kita lebih cepat merasa yakin ketika kita sedang hancur? Kenapa justru di saat paling lemah kita percaya insting kita yg paling benar? Mungkin karna kita ingin sekali percaya bahwa semesta pasti punya alasan. Tapi keinginan untuk percaya itu sering menutup kemampuan kita untuk mengamati secara sadar.
Dalam behavioral psychology ini disebut confirmation bias, saat kita secara tidak sadar mencari bukti untuk membenarkan keyakinan yg sudah kita inginkan sejak awal, dan ketika emosi sedang tinggi, otak kita juga rentan mengalami False pattern recognition, yakni menyambungkan dua hal yg sebenarnya tidak berkaitan hanya karna kita butuh makna secepat mungkin. Daru situlah muncul apa yg disebut projected intimacy, perasaan dekat yg sebenarnya lebih banyak dibentuk oleh harapan dan fantasi daripada realitas yg benar benar terbangun bersama.
Jadi ini bukan soal kamu salah jatuh cinta, tapi soal apakah kamum jatuh cinta pada orangnya, atau pada perasaan yang dia hadirkan saat kamu sedang rapuh? Jangan buru buru menyebut seseorang tepat hanya karna dia datang disaat kamu sedang merasa hilang. Kadang kadang yg datang menenangkanmu justru membuatmu lupa bagaimana caranya mengenal dirimu sendiri.
Comments
Post a Comment
silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang sopan