Sebuah Refleksi Diri

 

Usia 23 adalah usia yang begitu lama dan tidak pendek namun saya mulai menyadari bahwa selama ini pikiran saya tidak terlalu aktif untuk digunakan. Saya mulai menyadari bahwa saya mulai aktif berfikir ketika memasuki usia 20 tahun, yang artinya saya mulai berfikir aktif 3 tahun yang lalu padahal usia sudah 23 tahun.

Lalu apakah artinya selama 20 tahun ini saya tidak berfikir gitu? Ya tidak juga, saya juga berfikir namun masih pasif dan tidak seaktif saat ini.

Kita mulai memasuki masa sekolah pada usia sekitar 7 tahun dan melalui sekolah formal dari SD sampai SMA selama 12 tahun, belum ditambah kuliah 4,5 tahun yang jika ditotalkan menjadi 16,5 tahun kita melalui pendidikan, dan apakah selama itu kita tidak memanfaatkan otak kita untuk berfikir? Jika diingat-ingat lagi, saya tidak terlalu berpikir-pikir amat waktu kuliah, waktu SMA kita lebih banyak menghafal, karna itulah kita banyak lupa pelajaran-pelajaran waktu SMA kita.

Saya rasa sebuah kalimat yang mengatakan “pernah sekolah namun belum tentu berfikir” atau kalimat “ijazah hanya tanda kamu pernah sekolah, bukan tanda kamu pernah berfikir” – adalah kalimat yang relate dengan kehidupan pendidikan saya dan saya sendiri mengalaminya. Saya tidak bermaksud ingin merendahkan siapapun ataupun mereka yang sekolah, namun membaca refleksi diri di masa lalu dan merenunginya kembali membuat kita sedikit tersadar bahwa melakukan hal sederhana seperti berfikir adalah hal yang jarang kita lakukan. Selain itu semakin bertambah usia semakin kita akan menyadari bahwa waktu itu adalah hal yang berharga.

Saya sering mendengar pernyataan bahwa manusia adalah mahluk rasional, mahluk yang mendahulukan akal mereka, namun yang terjadi adalah manusia  sering mendahulukan sisi emosional mereka ketimbang sisi rasional mereka. Saya ambil contoh dari  beberapa komenta atas peristiwa dan berita dari sosial media. Terlihat dari komentar-komentar orang atas sebuah berita yang dimana dalam komentar tersebut orang-orang lebih menunjukan sisi emosionalnya seperti marah, kecewa, kesal,  dan jarang sekali saya melihat komentar orang yang mengedepankan sisi rasio mereka.

Memang tidak salah mengedapankan sisi emosional, namun ada porsi-porsinya tersendiri. Seperti ketika kita mendengar berita tentang kematian atau bencana, akan wajar jika kita mengedepankan sisi emosional kita untuk menunjukan empati terhadap korban. Namun bagaimana dengan bidang-bidang yang membutuhkan analisis seperti hukum dan ekonomi? Dalam hal ini bagi saya mengedepankan rasionalitas adalah hal yang perlu, jika sisi emosional didahulukan kita akan jadi orang yang baperan dan suka menghujat.

Lalu kembali lagi, Jadi apa yang membuat saya mulai aktif berfikir? Ada beberapa alasan yang mungkin saya anggap jadi faktornya, seperti buku-buku yang saya baca, membaca kritik2an orang, menyendiri sambil merenung, mengkaji perbedaan-perbedaan yang ada, mengamati alam dan sosial kita, melakukan pengamatan atas pengalaman orang lain dan kegiatan lainnya. Beberapa peristiwa-peristiwa yang emosional juga membuat saya berfikir lebih lagi, seperti kita melihat ketidakadilan yang terjadi, kekerasan yang terjadi dan masih banyak lagi peristiwa yang menuntut kita untuk mencari akar permasalahan dan mencari solusinya

Beberapa hal itu sudah cukup menjadi alasan yang membuat saya menjadi orang yang aktif berifkir.

Di kehidupan kita yang sekarang serba modern dan serba kompleks ini, mengedepankan rasio(akal) adalah hal yang wajib, punya permasalahan tertentu kita bisa menggunakan akal kita untuk berfikir mencari solusi atas permasalahan yang ada. Mendekati gebetan juga butuh taktik dan strategi, jangan langsung sat set sat set, eh ujungnya ditolak. Hanya karna bermodal perasaan yang kamu punya tidak menjanjikan bahwa yang satunya juga punya rasa yang sama, karna itu pendekatan juga butuh strategi dan taktik.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan dari seorang filsuf yakni Rene Descartes, kalimatnya yang terkenal adalah Cogito Ergo Sum yang berarti aku berfikir maka aku ada.

Comments

Post a Comment

silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang sopan

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Butuh Hari Tanpa Aktivitas, Tanpa Harus Jadi Produktif

kehadirannya di momen yg tepat, apakah berarti dia orang yg tepat?

Rumah sebagai cermin kualitas hidup