Konsep "menjadi" dan konsep "memiliki" dalam menganalisis relationship


Seorang filsuf, erich Fromm, pernah menulis buku yang berjudul To Have or To Be yang di latar belakangi oleh analisisnya pada kehidupan masyarakat industri yang di pandang mengarah pada kehidupan yang kurang sehat. Dampak kehidupan masyarakat industri akan mempengaruhi perilaku orang dan lebih jauh akan mempengaruhi karakternya.

Erich fromm mempercayai perubahan karakter manusia menuju karakter yang sehat dengan cara melalui pengembangan kehidupan dengan model “menjadi” yaitu menjadi pribadi yang berkembang (mode of being), bukan kehidupan dengan model “memiliki” (mode of having) yang akan mendorong pada kehidupan yang tidak sehat, ketamakan, egoisme, pertentangan, dan penindasan.

Dua model analisis ini (memiliki dan menjadi) bisa diterapkan juga untuk menganalisis bagaimana cara menjalani atau membangun hubungan yang sehat dan produktif antar lawan jenis.

Seiring perubahan zaman gaya berpacaran pun ikut berubah, saya ingat guru saya pernah bercerita tentang masa-masa pacarannya. Mereka jarang saling hubungi karna waktu itu belum ada Smartphone, waktu itu masih pakai surat-suratan, kirim surat hari senin sampe hari kamis, malam harinya kadang pergi ngapel ke rumah si cewek dan ngobrol di teras bersama orang tua si cewek. Meskipun terkesan jadul namun hubungannya awet sampai mereka menikah.

Namun di era industri ini model pacaran pun berubah, sekarang dengan adanya smartphone kita bisa berkomunikasi setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Namun anehnya cewek kalo mau pergi keluar harus izin dulu sama pacarnya, mau apa-apa harus izin seolah olah kehidupan si cewek ini sudah dimiliki dan kebebasannya menjadi terbatas.

Belum lagi mesin lainnnya seperti motor, kita bisa bawa anak orang keluar kemana pun dan kapanpun, bahkan tidak jarang terjadi si cewek dibawa ke rumah si cowok dan nginep dan besoknya mereka bakal nikah, kalo sudah begini keluarga harus turun tangan dan mau tidak mau mereka harus merelakan anak mereka untuk di nikahkan.

Inilah contoh dalam hubungan yang tidak sehat di era industri ini, bukannya membangun hubungan yang sehat, hubungan yang saling support, malah membangun hubungan yang sakit. Inilah contoh hubungan dalam model “memiliki”, ada kesan individu ingin menguasai objek dan karna menguasai objek maka berarti mencabut hak hidup dari objek tersebut.

Bayangkan anda memiliki pacar yang begitu possesif, selalu ingin mengekang, harus chatingan dengan dia saja, apa” harus minta izin dlu, suka marah tidak jelas tanpa mempertanyakan permasalahannya, melakukan tindakan semaunya, bagaimana rasanya? Anda mungkin bisa menebaknya.

Karakter dengan model “memiliki” ini mengandung konotasi destruktif, yaitu menghancurkan sesuatu yang hidup dan memperlakukannya seperti objek mati. Dengan adanya rasa memiliki manusia dapat menjadikan orang lain sebagai objek pengendalian, objek manipulasi, pengekanganga dan tindakan semena-mena yang menyakitkan martabat manusia.

Motor sebagai objek pemilikan mungkin tidak banyak menimbulkan masalah karna motor adalah benda mati yang tidak memiliki hak untuk mempertahankan eksistensinya. Namun bagaimana dengan wanita, anak, atau manusia sebagai objek pemilikan? Tentu akan menimbulkan masalah sebab jika menjadikan wanita atau anak sebagai objek pemilikan berarti melakukan tindakan destruktif terhadap hak eksistensi sebagai pribadi atau sebagai manusia yang memiliki kemerdekaan.

Berkebalikan dengan itu, karakter dengan model “menjadi” dimanifestasikan dalam bentuk memberi, menjaga, dan kebersamaan oleh karna itu karakter model “menjadi” terdapat konotasi memelihara dan mendorong kehidupan, menghormati eksistensi dan kemerdekaan. Berbeda dengan karakter sebelumnya, karakter “menjadi” mengandung konotasi menghidupkan objek.

Ibarat melihat sebuah bunga yang indah kita tidak ingin mencabutnya hanya untuk keegoisan diri sendiri, namun kita tetap menjaga bunga tersebut agar tetap hidup dan menampilkan keindahanya.

Begitu halnya ketika kita mencintai seseorang dengan karakter “menjadi”, maka tindakan cinta kita tidak akan membuat orang yang kita cintai hancur, menderita, mengambil kebebasannya dan merampas kemerdekaannya. namun mencintainnya adalah tentang memberi, menjaga, dan mendorong untuk tumbuh berkembang dan hidup.

Terdapat aktivitas produktif dan menghidupkan ketika mencintai seseorang bukan mengandung arti membatasi, mengontrol, dan memenjara orang yang menjadi objek cintanya.

Jadi membangun hubungan yang sehat itu dengan cara tetap mensupportnya, membantunya berkembang, membantunya menemukan jati dirinya tanpa harus mengekang dan memenjarakan kebebasannya karna keegoisan diri kita semata.

 

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Kita Butuh Hari Tanpa Aktivitas, Tanpa Harus Jadi Produktif

kehadirannya di momen yg tepat, apakah berarti dia orang yg tepat?

Rumah sebagai cermin kualitas hidup