Seperti malam biasanya sebelum tidur adit selalu membaca doa sebelum tidur lalu setelah itu dia akan tertidur pulas. Tapi tidak dengan malam itu, setelah membaca doa dia tidak bisa langsung tidur karna di kepalanya selalu terngiang-ngiang akan berita yg di tontonya sebelum tidur.
"Bagaimana bisa orang berpendidikan seperti itu dan punya sederet gelar di belakang namanya bisa melakukan hal yang kejam tersebut yakni korupsi?" Begitu tanyanya.
Sejenak dia berpikir dan berharap semoga kejadian korupsi itu tidak di sengaja dan tersangka dijebak, namun dalam berita tersebut si pelaku mengakui perbuatannya
Yang memang disengaja. karna Pernyataan tersebut membuatnya semakin bingung.
"Jika dia ingin melakukan korupsi, apa dia tidak mikir skenario terburuknya yakni bisa ditangkap dan dikucilkan oleh masyarakat, belum lagi keluarganya mungkin juga akan kena getahnya, dimana otaknya orang itu? Mungkinkah banyak juga yg korupsi namun belum diketahui, ah entahlahh" begitu tanyanya lgi ke dirinya dengan nada yg sedikit kesal.
Malam itu pertanyaanya penuh dengan pertanyaan, isi pikirannya seperti potongan puzzle yg terpisah dan bertebaran entah dimana, berharap suatu saat nanti dia bisa mengumpulkan potongan-potongan puzzle tersebut lalu menyatukannya dan dia bisa menemukan jawabannya.
Dia mulai memejamkan matanya dan berusaha melupakan apa yg dipikiranya dan berharap hari esok semua pelaku korupsi tertangkap, dan mendengar berita yg baik-baik saja dari Tv. dia tau itu sebuah harapan yg utopis
Keesokan paginya, seseorang seperti menggoyangkan tubuhnya lalu dilihatnya
"Dit bangun, waktunya ke sekolah"
ucap ibunya, "kok ibu dida..." belum selesai berbicara
adit langsung bangun dan kaget karna dibangunkan oleh ibunya, karna biasanya adit selalu dibangunkan oleh alarmnya. Adit mengira alarmnya rusak ternyata tidak, dia sadar dia tidak mendengarkan alarmnya berbunyi. Dia pikir mungkinkah karna pemikiran semalam yg membuatnya telat bangun. Setelah itu dia bergegas mandi
Selesai mandi dia memakai seragam sekolahnya sambil memandang keluar jendelanya untuk melihat cuaca sambil melihat cahaya matahari,kadang entah kenapa hanya dengan merasakan sinar matahari itu membuatnya bersyukur.
"Dit ayo sarapan" ucap ibu memanggilnya
"Iya bu bentar" balasnya
"Kok tumben telat bangun" ucap ibu sambil menyodorkan sarapan ke adit
"Gk tau juga bu, padahal tadi malam tidur seperti biasa" lalu memasukkan nasi ke mulutnya.
"Lain kali jangan diulangi lagi ya"
"Iya bu" jawabnya
Selesai sarapan adit pun langsung bergegas berangkat sekolah. adit selalu jalan kaki ke sekolah karna Rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah, sehingga dia bisa menghemat pengeluaran. sama seperti sekolah pada umumnya yg berada di pinggir jalan, Sekolahnya pun berdekatan dengan jalan besar.
Terkadang sesekali dia berfikir sekolahnya bukan tempat untuk belajar,bersosialisasi dan mendapat pendidikan, tapi lebih ke hanyòa untuk mencari angka dan menaikkan gengsi. Ya sekolah adit adalah salah satu Sekolah SMA negeri yang bergengsi yg ada di kotanya, ketika pendaftaran dibuka banyak sekali calon siswa siswi yang mendaftar. Untuk masuk ke sekolah tersebut juga harus mengikuti serangkaian tes,namun karna kuota yang terbatas banyak juga yang tidak lolos dan siswa yg lolos pun adalah siswa yg nilai tesnya bagus.
adit juga pernah mendengar isu-isu yg beredar jika sebagian murid yang diterima menggunakan orang dalam, adit tidak tau isu tersebut benar atau tidak namun yang pasti ini tidak adil. dia juga pernah berfikir bahwa lulusnya dia murni karna dirinya sendiri atau sudah di setting.
Sesampainya di gerbang sekolah dia melihat Tulisan SMAnya lalu bergumam" jika mendapatkan pendidikan adalah hak semua orang, lalu kenapa disini yg nilai tesnya tinggi saja diterima? Bukankah tugas sekolah adalah membantu mencerdaskan kehidupan bangsa?bukankah sekolah harusnya membantu mereka yang tertinggal dalam hal pendidikan? Bagaimana bisa membantu mereka yg tertinggal jika yg diterima hanya yg pintar saja".
Selain itu dia juga melihat guru disana sebagian hanya mengajar saja tapi tidak mendidik. bagi adit guru yang hanya mengajar berbeda dengan guru yang mendidik, guru mengajar hanya menunaikan kewajibannya saja yakni mengajar tanpa peduli muridnya paham atau tidak. Tapi guru yang mendidik tidak terbatas hanya mengajar, guru yang mendidik peduli tentang paham atau tidak muridnya, dia juga paham karakter masing-masing siswanya.
"Adit?" Guru memanggilnya, namun tidak menghiraukannya, dia masih sibuk dengan pikirannya yang entah kemana sampai tidak menyadari gurunya sudah ada di depannya.
"Adit kamu tidak mendengarkan ibu ya?"
" eh iya gimana bu?" Tanyanya dengan sedikit terkejut
" coba kamu jelaskan arti pendidikan?" tanya ibu gurunya yang kebetulan mata pelajaran saat itu ilmu sosial
adit terdiam beberapa saat, lalu mulai menjawabnya " pendidikan adalah hak semua orang, negara harus memastikan semua rakyatnya mendapat hak tersebut, karna dengan pendidikan yang layak akan bisa mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan UUD 1945, dengan begitu bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju"
"hmm bagus juga jawabanmu,lain kali fokus klo sedang belajar"
"Iya bu" sambil mengangguk.
Kehidupan sekolah adit layaknya seperti anak-anak biasa, namun dia menganggap dirinya hanya punya beberapa teman aja dan kadang menganggap pertemanan itu adalah toxic. dia melihat berbagai pertemanan itu hanya untuk senang senang saja dan pertemanan tersebut tidak membawa seseorang menuju perkembangan dan ke arah lebih baik. Jadi dia selektif ketika memilih seorang teman.
Bel tanda pulang berbunyi adit mulai merapikan bukunya dan siap bergegas untuk pulang. Dalam perjalanan pulang dia beristirahat sebentar di sebuah tanah kosong di bawah pohon mangga, dimana pohon tersebut daunnya tidak terlalu banyak namun cukup untuk melindunginya dari terik sinar matahari.
Duduk dan kembali merenung lagi terhadap absurdnya dunia ini, mengapa ada orang pintar namun korupsi, mengapa ada orang yang sudah kerja keras namun tidak bisa menjadi kaya, kadang dia berfikir dunia ini tidak adil, dunia lebih memihak ke orang-orang yang jahat. Dia berharap disampingnya sekarang ada Doraemon yang bisa mengeluarkan benda ajaib lalu membantunya menyelesaikan persoalan dunia.
Dia begitu sibuk dengan apa yang ada di kepalanya, sampai tidak sadar jika ada seorang pria tua yg berjualan mainan duduk di sebelahnya dan memanggilnya.
"Dek...dek.." kata orang tersebut sambil menepuk dan menggoyang pundak adit.
"Eh iya pak, ada apa" jawabnya dengan spontan sambil melihat orang tersebut yg terlihat kelelahan.
"Ngelamun aja, apa yg dipikirin dek? Msih sekolah kok kyk orang lagi punya utang gede aja"
" gak kok pak, emang suka ngelamun aja apalagi klo lamunanku udh setinggi langit kadang lupa diri dan waktu hehe "
"Emng apa yg dilamunin sampai setinggi itu?" Tanyanya dengan penasaran.
"Ya kyak kejahatan bisa hilang di dunia ini, tidak ada orang sakit, korupsi tidak ada, kita semua punya kekayaan, dengan begitu kita bisa hidup aman dan nyaman."
mendengar hal itu, penjual tersebut langsung membuka topi dan menghela nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan lalu mulai berbicara
"Saya juga pengen kayak gitu, biar saya gk capek capek jualan kayak gini, biar gak capek ngumpulin uang cuma beli obat aja. Namun bukan itu hidup jika segala hal Mudah dan segalanya gampang. Hidup bagi saya adalah menemukan Makna pada setiap apa yg saya lakukan, kayak saya berdagang mainan ini, mungkin orang orang melihat ini kerjaan yang tidak seberapa gajinya dan melelahkan namun bagi saya pekerjaan ini mempunyai nilai tersendiri. saya bahagia bertemu dan mengobrol dengan orang orang baru yang saya temui di jalan, saya bahagia ketika melihat anak kecil tidak menangis lagi setelah dibelikan mainan oleh orang tuanya. Hal-hal kecil seperti ini bisa membawa kebahagiaan pada saya"
Mendengar perkataan penjual tersebut entah kenapa dada adit terasa seperti tertusuk sebuah jarum. selama ini dia kurang mensyukuri segala hal yang dimilikinya karna sibuk menghabiskan waktunya dan menghayal tentang hal-hal yang melangit, hal hal yang tidak mungkin bisa terjadi di dunia nyata ini. Pikirannya kadang terlalu melangit namun dia lupa untuk membumi, lupa untuk mensyukuri hal hal kecil yang ada di sekitarnya seperti bertemu dengan penjual ini. Adit terdiam dan tidak bisa berkata kata.
Melihat reaksi adit yang seperti itu, bapak melanjutkan pembicaraanya" klo boleh mengibaratkan, hidup ini seperti papan catur ada hitam ada putih, permainan catur akan berjalan jika kedua warna tersebut ada, tapi bagaimana kalo salah satu warna dari papan tersebut tidak ada? Tentunya permainan tidak bisa dilanjutkan. Begitulah saya melihat dunia ini, ada kebaikan dan kejahatan, ada si kaya dan si miskin, ada sakit ada sehat, ada gelap ada terang, ada laki laki dan perempuan. Segala hal di dunia ini mempunyai pasanganya."
"Kan tuhan maha kuasa, kenapa tidak dihilangkan saja yg buruk buruk itu" tanya adit
"Iya memang, tuhan tidak jahat kok hanya saja kita dituntut untuk belajar dari segala perbedaan yang ada dan saling memahami. Kita gak akan tau nikmatnya sehat jika tidak pernah sakit. Bagaimanapun kondisi kita jalani dan terima saja karna dari sana perlahan kita bisa menemukan arti hidup".
"Pak punya keluarga"
"Ada, mereka sedang nunggu kepulangan saya"
"Bapak gk dicari?"
" nanti pasti saya pulang kok" sambil tersenyum
saking menikmati obrolan dengan penjual tersebut Tak terasa hari sudah sore, dan adit berpamitan pulang serta tidak lupa mengucapkan terima kasih atas pembelajaran yang didapat.
"Sampai jumpa pak semoga ketemu lagi". Kata adit bersemangat
Namun pertemuan yg tadi adalah pertemuan terakhir si bapak penjual mainan dengan adit, begitu pula senyum si bapak kemarin adalah senyum terakhirnya. Pada keesokan harinya telah terjadi kecelakaan tabrak lari di depan sekolah adit. Adit yang hari itu berangkat dengan penuh semangat setelah mendapat motivasi menjadi lemah ketika sampai di sekolah. Dia melihat sesosok orang yang terkapar dengan ditutupi berkas koran. Disampingnya terdapat topi beserta beberapa mainan yang tercecer kemana-mana yang sepertinya adit mengenalnya.
Dan benar saja itu adalah bapak yang ditemui adit kemarin, begitu cepat pertemuan itu berakhir dan begitu cepat tuhan mengambil nyawanya.
adit juga mendengar dari orang orang kalo bapak tersebut hidup sebatang kara.
Akhirnya adit baru sadar dengan ucapan bapak tersebut yg mengatakan "kepulangannya sedang ditunggu", ternyata keluarganya sudah tidak ada.
Matanya mulai berkaca-kaca, dan ingin menangis namun ditahannya. adit bersyukur bisa mendengar cerita bapak tersebut dan melihatnya tersenyum kala itu. Adit pikir dengan senyum tersebut bapak tersebut bisa pergi dengan tenang.
"Memang benar segala hal di dunia ada pasangannya, seperti kehidupan dan kematian, dan bapak itu lupa mengatakannya kepadaku" ucap adit sambil menggosok matanya yang mulai mengeluarkan air mata.
Sekian
Comments
Post a Comment
silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang sopan