Memaknai Penderitaan
Dalam menjalani hidup tidak semua hal bisa kita rasakan dengan bersenang-senang, bersuka ria dan bahagia, ada kalanya suatu saat kadang kita merasakan sedih, sakit, kecewa dan menderita. Patah hati habis diputuskan pacar, emosi karna gagal masuk seleksi, marah karna internet lelet dan terkadang kita menyalahkan orang lain atas kegagalan kita sendiri.
Terkadang disaat seperti itu kita berfikir, kenapa banyak sekali musibah yang menimpa kita sedangkan orang lain tidak, tuhan sepertinya tidak adil, kenapa aku lebih banyak menderita dibandingkan orang lain. kita mulai menyalahkan keadaan karna tidak seperti yang kita inginkan dan melihat diri kita sebagai orang yang tidak berguna dan tidak pantas untuk hidup.
Namun sebagian orang menganggap penderitaan adalah hikmah, ada sebuah makna dibalik penderitaan. Saya mengenal beberapa filsuf yang bisa membantu kita dalam memaknai penderitaan, namun sebelum kita masuk ke tokoh tersebut alangkah lebih baiknya kita mengetahui ciri-ciri penderitaan.
Yang pertama ‘experience of unpleasantness’, atau pengalaman ketidaknyamanan, tidak mengenakkan, jadi kapanpun pengalaman ini hadir biasanya kita merasa menderita. Contoh hadir di pernikahan mantan. (Wkwkwk :v yg pernah pergi gmna rasanya?)
Kedua ‘perception of harm or threat of harm’, artinya kita mempersepsikan adanya rasa sakit atau terancam takut sakit. Contoh, kita dipukul orang sakit, takut dipukul juga kita menderita.
Ketiga, ‘Physical or Mental’, berkaitan dengan sakit fisik dan mental. Kalo ini teman teman bisa tau ya.
Keempat ’degrees of intensity’, level penderitaan yang berbeda, artinya tiap tiap orang berbeda beda dalam menafsirkan penderitaanya. Ada yang mempunyai cobaan hidup yang berat namun dia masih bisa tersenyum, ada level cobaan hidupnya kecil namun dia merasa seolah-olah dunia mau berakhir.
Kita hidup tidak akan lepas dari penderitaan, namun benarkah kita menderita setiap saat?
Namun ada saja orang-orang yang berlebihan dalam memaknai masalahnya, biasanya orang seperti ini sedang mengalami Delusi. Dalam hal ini Delusi dibagi 2, pertama Delusi hipokondris, yakni adanya pola pikir yang keliru yang menyatakan dirinya selalu menderita, selalu sakit dan disertai perasaan seperti kecewa, cemas, amarah.
Lalu kedua ada Delusi nihilitis yakni adanya pikiran-pikiran yang menyatakan bahwa sudah tidak ada lagi harga diri, sudah tidak berguna lagi di dunia, untuk apa hidup jika menderita terus, rasa putus asa karena penderitaan yang tidak kunjung reda. Dari pola pikir seperti inilah munculnya tindakan bunuh diri.
Bagi saya sendiri yang menjadi masalah adalah pikiran-pikiran kita dalam mempersepsikan sesuatu, Saya ingat sebuah kalimat di buku filosofi teras namun saya lupa nama orangnya, dia bilang gini; ‘masalah kita itu sebenarnya hanya 10% namun 90% adalah pikiran kita bagaimana menafsirkan masalah tersebut’. Kiranya dari kalimat tersebut kita bisa membuka pikiran kita terhadap masalah dan memaknainnya sebijak mungkin.
Sekarang kita beralih kepada para beberapa tokoh barat beserta pandangannya dalam memaknai penderitaan. Perlu kita ketahui bahwa peradaban barat terutama di eropa adalah peradaban yang berusaha memeluk, memaknai penderitaan sebagai bagian dari hidup manusia. Mereka melihat penderitaan sebagai bagian penting di dalam proses pengembangan diri.
Tokoh pertama adalah Arthur Schopenhauer, menurutnya hidup ini digerakkan oleh Keinginan dan ide, sayangnya tidak semua keinginan kita bisa terpenuhi bahkan bisa kita pastikan sebagian besar tidak terpenuhi. ‘(Coba cek keranjang belanja online ? Berapa yang belum terbeli?). Akhirnya karna banyak keinginan-keinginan tidak terpenuhi lahirlah kekecewaan-kekecewaan, kesedihan. Lahirlah patah hati karna kita terlalu berkeinginan untuk memilikinya namun keinginan itu tidak terwujud. (yang pernah terlalu berharap sm seseorang, kasian dah loee!!). solusi yang ditawarkan oleh arthur adalah mengontrol dan membatasi keinginan. Jangan terlalu banyak keinginan, jangan terlalu banyak berharap ke si Dia, tujuan dari pembatasan ini agar tidak banyak lahir kekecewan kekecewaan.
Tokoh selanjutnya Friedrich Nietzsche, katanya “To live is to suffer, to survive is to find some meaning in the suffering”. Hidup berarti menderita, untuk bertahan berarti harus memberi makna pada penderitaan. Caranya agar tidak menderita ialah temukan makna dalam penderitaan tersebut, apa hikmah dari penderitaan ini. Contoh, putus cinta bukan berarti kita disakiti lalu patah hati, tapi bisa juga berarti kita sedang dijauhkan dari orang yang salah. Solusinya adalah “ja sagen:iyakan saja.” Artinya, hidup ini memang berisi penderitaan namun ‘iyakan saja’ terima saja keadaan tersebut. Mengapa? Karena penderitaan adalah tantangan untuk menghidupkan “will to power”, menjadi lebih produktif, menyingkirkan sikap lemah, jadilah orang yang kuat dan keluarlah dari penderitaan ini.
Selanjutnya Albert Camus, dia berpendapat kenapa kita bisa menderita, karna hidup ini Absurd, hidup ini penuh dengan kontradiksi serta ketidakjelasan, (terutama ketidakjelasan dari si Dia wkwk). kita ini seperti Sisipus. Sisipus ini dihukum oleh dewa untuk menggelindingkan batu dari bawah gunung ke atas gunung, ketika sudah diatas digelindingkan lagi kebawah lalu kembali lagi menggelindingkan batu tersebut keatas dan terus berulang dan entah kapan berakhir. Kebayangkan gimana capek dan gak ada artinya gelindingin batu terus menerus tanpa tujuan. Namun Camus menganalogikan hidup kita seperti sisipus yang menggelindingkan batu tersebut, tidak jelas, mana awal mana akhir, apa yang harus kita kerjakan, apa tujuan kita melakukan hal-hal di dunia, kenapa kita terdampar di tempat kerja yang tidak kita sukai ini, kenapa realita tidak sesuai ekspetasi kita, hidup ini absurd dan penuh ketidak jelasan. Solusi yang ditawarkan adalah Terima dan Nikmati saja hidup yang penuh dengan ketidakjelasan ini. Jika ada masalah cari jalan keluarnya bukan malah curhat ke fesbuk. Sama seperti sisipus tadi yang menggelindingkan batu dari atas kebawah lalu naik lagi dari bawah keatas. Namun diceritakan Sisipus ini bahagia mendorong batu tersebut, tidak seperti kita yang stress jika disuruh dorong batu.
Dalam hidup, kita banyak juga ngelakuin hal hal kurang kerjaan, masalah sepele dibesar-besarkan, keinginan lebih didahulukan daripada kebutuhan. Jadi nikmati saja apa yang kita lakukan saat ini meskipun itu absurd sekali.
Simpulan dari ketiga tokoh ini untuk memaknai penderitaan adalah:
1. Membatasi keinginan keinginan kita dan mengontrolnya agar tidak terlalu banyak lahir kekecewaan.
2. memberikan makna pada setiap penderitaan, iyakan saja bagaimanapun keadaan kita, agar lalu cari solusi dan temukan kekuatan untuk menghadapi penderitaan.
3. Hidup ini absurd namun nikmati saja.
Terima kasih kepada yang telah membaca serta kesabarannya membaca dari awal sampai akhir ini, saya tau tulisan ini masih jauh dari kata sempurna namun setidaknya saya ingin berbagi hal-hal kecil melalui tulisan ini. Dan sampai jumpa di postingan selanjutnya.
Sumber : youtube MJS Channel, serta beberapa opini pribadi

Comments
Post a Comment
silahkan berkomentar menggunakan bahasa yang sopan