Rumah sebagai cermin kualitas hidup
akhir-akhir ini aku sering kepikiran kalo banyak perilaku orang di luar rumah sebenarnya adalah bayangan dari apa yang terjadi di dalam rumah mereka. Semakin lama aku memperhatikan, semakin terasa jelas bahwa orang yg tidak bahagia di rumah akan membawa sebagian dari ketidakbahagiaan itu ke mana pun mereka pergi, ke tempat kerja, ke lingkungan sosial, bahkan ke cara mereka menatap dunia. Kita sering berharap seseorang bersikap professional dengan meninggalkan masalah pribadi di rumah. Tapi manusia bukan mesin. Kita gk punya tombol untuk mematikan perasaan lalu tiba-tiba menjadi netral dan fokus. Kalau seseorang setiap hari hidup dalam suasana rumah yang penuh tekanan, konflik, dingin secara emosional, atau sekadar tidak ada ruang untuk bernapas, wajar kalau sisa energinya terkuras. Dan sisa energi itu yang kemudian muncul dalam bentuk mudah tersinggung, sulit fokus, atau terasa jauh secara emosional saat bersosialisasi. Dari sini aku mulai mikir kalo ingin melihat kualitas hidup se...